Literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi untuk mencari, memahami, menilai, membuat, dan menyampaikan informasi secara tepat serta bertanggung jawab. Anak yang lancar memakai ponsel belum tentu mampu membedakan informasi yang kuat dasarnya dengan pesan yang sekadar meyakinkan.
Saat mengerjakan tugas sekolah, misalnya, siswa bisa menemukan banyak jawaban dalam waktu singkat. Tantangannya muncul ketika mereka harus memilih sumber, menjelaskan kembali isi bacaan, dan menghargai karya orang lain. Di sinilah guru dan orang tua dapat mendampingi mereka.
Apa Itu Literasi Digital?
Dalam kegiatan belajar, literasi digital mencakup keterampilan memakai perangkat sekaligus pertimbangan tentang informasi dan perilaku. Siswa belajar menemukan bahan yang sesuai pertanyaan, memahami konteksnya, kemudian menentukan cara menggunakan bahan tersebut.
Glosarium UNESCO-UNEVOC memuat pengertian literasi digital yang mencakup kemampuan mengakses, mengelola, mengevaluasi, dan membuat informasi melalui teknologi secara aman serta tepat. Cakupannya jauh melampaui kemampuan membuka aplikasi.
Perbedaannya bisa terlihat dari tugas sederhana. Seorang siswa mungkin mampu menemukan gambar untuk presentasi, tetapi masih perlu belajar siapa pembuatnya, apakah penggunaannya diperbolehkan, dan bagaimana mencantumkan sumber. Kemampuan teknis dan pertimbangan tersebut perlu tumbuh bersama.
Karena itu, tujuan literasi digital tidak berhenti pada banyaknya aplikasi yang siswa kuasai. Yang lebih berguna ialah kemampuan memilih tindakan dan menjelaskan alasannya ketika siswa berhadapan dengan informasi, orang lain, atau permintaan data di ruang digital.
Mengapa Literasi Digital Perlu Diajarkan di Sekolah?

Sekolah dapat menyediakan ruang latihan dengan tujuan dan pendampingan yang jelas. Guru bisa mengajak siswa membandingkan informasi, mendiskusikan perbedaan pendapat, serta memperbaiki kesalahan sebelum membawanya ke situasi yang lebih luas.
Kebutuhan tersebut berkaitan dengan perubahan kebiasaan masyarakat di era digital, termasuk cara belajar, berkomunikasi, dan mengakses informasi. Anak perlu memahami kebiasaan yang tepat saat menerima pesan maupun menyampaikan pendapat melalui teknologi.
Dalam pembelajaran, guru dapat menekankan proses berpikir saat menggunakan informasi. Ajak siswa menanyakan siapa sumbernya, apa dasar informasinya, dan apakah penjelasannya sesuai dengan pertanyaan tugas. Dengan begitu, tampilan yang menarik bukan satu-satunya alasan mereka memilih bacaan.
Pembelajaran juga dapat memberi siswa bahasa untuk meminta bantuan. Mereka perlu tahu bahwa kebingungan menghadapi pesan, kesalahan mengirim berkas, atau permintaan data bukan sesuatu yang harus mereka selesaikan sendirian. Latihan ini tidak menjamin semua risiko hilang; tujuannya membantu siswa menentukan langkah ketika menghadapi masalah.
Mengenal 4 Pilar Literasi Digital
Kementerian Komunikasi dan Digital menggunakan empat pilar dalam program literasi digital: kecakapan, etika, budaya, dan keamanan digital. Kerangka ini dapat membantu guru menghubungkan penggunaan teknologi dengan tanggung jawab penggunanya.
- Kecakapan digital: kemampuan memahami dan memakai perangkat serta aplikasi. Contohnya, siswa berlatih menyimpan berkas tugas dengan nama yang mudah dikenali dan menemukannya kembali.
- Etika digital: pertimbangan saat berinteraksi dengan orang lain. Siswa berlatih mengkritik gagasan tanpa merendahkan teman atau menyebarkan percakapan pribadi.
- Budaya digital: penerapan nilai kebangsaan, Pancasila, dan penghargaan terhadap keberagaman dalam aktivitas digital. Contohnya, siswa menghormati perbedaan latar belakang dalam diskusi kelas.
- Keamanan digital: kesadaran melindungi akun, perangkat, dan data. Siswa berlatih mengenali informasi yang perlu mereka rahasiakan serta situasi yang membutuhkan bantuan orang dewasa.
Untuk latihan di kelas, guru dapat menghubungkan keempat pilar dengan kegiatan membaca, membuat presentasi, berdiskusi, atau menyelesaikan proyek kelompok. Pilih kegiatan sesuai kesiapan siswa; contoh berikut merupakan usulan pembelajaran, bukan ketentuan pembagian mata pelajaran.
Contoh Pembelajaran Literasi Digital di Sekolah
Sesuaikan kegiatan dengan usia, kemampuan membaca, dan akses perangkat. Guru dapat memakai bahan cetak atau demonstrasi bersama sehingga latihan tidak bergantung pada kepemilikan ponsel pribadi maupun akun media sosial siswa.
Membandingkan Sumber sebelum Memakai Informasi
Guru dapat menyiapkan dua bacaan singkat tentang topik yang sama. Satu bacaan mencantumkan penulis dan dasar informasi, sementara bacaan lain hanya menyampaikan klaim tanpa penjelasan. Bahan dapat berupa halaman cetak agar semua siswa ikut berdiskusi.
Mintalah siswa menunjukkan bagian yang membuat suatu sumber layak dipakai. Jika siswa menjawab “karena muncul paling atas”, lanjutkan dengan pertanyaan tentang penulis, waktu penerbitan, dan kesesuaian isi. Amati apakah siswa mampu menjelaskan alasan pemilihan sumber dengan kata-kata sendiri.
Untuk siswa yang lebih siap, tambahkan dua sumber yang sama-sama tampak meyakinkan tetapi membahas kondisi berbeda. Ajak mereka membandingkan konteksnya: apakah bacaan membahas tempat, waktu, atau kelompok yang sama dengan pertanyaan tugas? Informasi yang benar belum tentu relevan dengan setiap pertanyaan.
Berkomunikasi dan Membuat Karya dengan Bertanggung Jawab
Gunakan tugas membuat poster kelompok untuk membahas izin dan penghargaan terhadap karya. Sebelum memasukkan foto teman, ajak siswa meminta persetujuan. Saat memakai bahan orang lain, mereka belajar mengenali aturan penggunaan dan mencantumkan sumber yang sesuai. Jelaskan bahwa mencantumkan nama pembuat tidak otomatis menggantikan izin penggunaan.
Guru juga bisa memberikan contoh komentar yang kurang sopan, lalu meminta siswa memperbaikinya. Perhatikan apakah mereka mampu memberi masukan tentang isi karya tanpa menyerang pembuatnya. Hasil latihan cukup dibahas di kelas; guru tidak perlu meminta siswa memublikasikannya.
Mengenali Data Pribadi dan Meminta Bantuan
Siapkan contoh formulir rekaan tanpa memakai data siswa sebenarnya. Ajak kelas membedakan informasi untuk tugas, seperti nama kelompok, dengan informasi yang tidak perlu dibagikan secara terbuka, seperti password atau alamat rumah lengkap.
Guru dapat menambahkan pesan hipotetis yang meminta kode masuk akun. Siswa berlatih menghentikan percakapan dan meminta bantuan orang dewasa yang dipercaya. Amati apakah mereka mampu menyebut informasi yang harus dijaga dan menjelaskan kepada siapa mereka akan meminta bantuan.
Bangun Kebiasaan Digital melalui Pendampingan
Orang tua dan guru sebaiknya menyepakati kebiasaan yang mudah diterapkan, misalnya meminta izin sebelum membagikan foto serta membicarakan pesan yang membuat anak tidak nyaman. Buka percakapan agar anak dapat menceritakan kesalahan tanpa langsung menerima tuduhan.
Untuk menyiapkan bahan tambahan, guru dapat mempertimbangkan modul literasi digital di sekolah dasar yang tercatat dalam repositori kementerian sebagai terbitan Direktorat Sekolah Dasar tahun 2021. Sesuaikan bahan yang dipilih dengan kebutuhan kelas dan tujuan pembelajaran.
Mulailah dari satu kebiasaan yang bisa diamati. Setelah tugas membaca, tanyakan alasan siswa memilih sumber. Setelah proyek kelompok, bahas izin penggunaan foto. Ulangi pembahasan dalam kegiatan nyata agar siswa mendapat kesempatan menerapkan pertimbangannya, bukan sekadar menghafal istilah.











