Trending Topic

Menjaga Aliran Air Jakarta Menuju Layanan Penuh pada 2029

PAM JAYA mempercepat perluasan jaringan demi mencapai target 100 persen layanan air perpipaan pada 2029
PAM JAYA mempercepat perluasan jaringan demi mencapai target 100 persen layanan air perpipaan pada 2029

Air yang sudah diproduksi belum tentu seluruhnya sampai ke rumah pelanggan. Di Jakarta, tantangannya bukan cuma membangun jaringan baru, tetapi memastikan air tetap mengalir saat jutaan warga membutuhkannya setiap hari.

PAM JAYA mengejar target cakupan layanan air minum perpipaan 100 persen pada 2029. Hingga pertengahan 2026, cakupan layanan telah mencapai sekitar 82 persen atau melayani kurang lebih 8,9 juta jiwa. Jaringan perpipaannya membentang sekitar 13.200 kilometer.

Angkanya memang terus bertambah. Namun, memperluas jaringan baru hanya satu sisi pekerjaan.

Kebocoran pipa, kehilangan air, kestabilan tekanan, kualitas layanan, hingga kecepatan menangani gangguan ikut menentukan apakah jaringan yang dibangun benar-benar memberi manfaat bagi warga.

Target 100 Persen Bukan Hanya Soal Menambah Sambungan

PAM JAYA mempercepat perluasan jaringan demi mencapai target 100 persen layanan air perpipaan pada 2029
PAM JAYA mempercepat perluasan jaringan demi mencapai target 100 persen layanan air perpipaan pada 2029

Cakupan layanan menunjukkan berapa banyak masyarakat yang sudah terjangkau jaringan perpipaan. Target 100 persen berarti seluruh wilayah Jakarta nantinya diharapkan memiliki akses terhadap layanan tersebut.

Pekerjaan di lapangan tentu lebih rumit daripada sekadar menyambungkan pipa.

Di bawah kepemimpinan Arief Nasrudin, PAM JAYA terus menjalankan agenda perluasan sekaligus pembenahan layanan air perpipaan. Arief tercatat menjabat sebagai Direktur Utama PAM Jaya sejak Juli 2022.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PAM JAYA menyiapkan sejumlah langkah menuju target 2029. Strateginya mencakup pembangunan dan pengembangan instalasi pengolahan air, perluasan jaringan, penguatan regulasi, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung operasional dan pelayanan.

Sambungan saja belum cukup.

Warga membutuhkan air yang benar-benar tersedia ketika keran dibuka. Tekanannya harus memadai, pasokannya perlu terjaga, dan gangguan pada jaringan harus bisa ditangani tanpa membuat pelanggan terlalu lama menunggu.

Itulah mengapa keberhasilan layanan air tidak bisa dibaca hanya dari panjang pipa atau jumlah pelanggan baru. Ukuran akhirnya tetap sama: air sampai ke masyarakat.

Kehilangan Air Masih Menjadi Pekerjaan Besar

Ada satu persoalan yang sangat menentukan efisiensi jaringan air Jakarta, yakni non-revenue water (NRW) atau tingkat kehilangan air.

Secara sederhana, NRW menggambarkan air yang sudah diproduksi dan masuk ke sistem distribusi, tetapi tidak seluruhnya tercatat sebagai air yang digunakan pelanggan.

Penyebabnya bisa beragam. Kebocoran jaringan merupakan salah satu yang paling mudah dibayangkan, tetapi kehilangan air juga dapat berkaitan dengan akurasi meter maupun penggunaan yang tidak tercatat.

Berdasarkan data Jakarta Investment Centre yang dikutip ANTARA, tingkat NRW PAM JAYA pada 2024 masih mencapai 46,2 persen. Pada periode yang sama, cakupan layanan air perpipaan tercatat sebesar 69,53 persen.

Targetnya jauh lebih rendah.

PAM JAYA menargetkan tingkat kehilangan air dapat ditekan hingga 9 persen pada 2029. Upaya ini berjalan bersamaan dengan perluasan cakupan layanan air perpipaan ke seluruh Jakarta.

Dampaknya cukup langsung. Semakin kecil air yang hilang dalam perjalanan, semakin besar volume air produksi yang berpeluang sampai kepada pelanggan.

Mengurangi kebocoran pun menjadi pekerjaan yang sama pentingnya dengan menambah kapasitas. Terlebih ketika jaringan yang ada masih menyimpan tingkat kehilangan air cukup tinggi.

Perbaikan Jaringan Tidak Bisa Menunggu

Pipa air bekerja setiap hari, terus-menerus. Ketika sebagian jaringan menua atau mengalami gangguan, kebocoran dapat muncul tanpa selalu terlihat dari permukaan.

Perbaikannya membutuhkan kombinasi pekerjaan teknis dan pemantauan yang lebih presisi.

Sejumlah langkah yang dijalankan mencakup:

  • mempercepat penanganan kebocoran;
  • merehabilitasi jaringan distribusi;
  • membentuk district metered area atau DMA;
  • mengganti meter pelanggan;
  • memperkuat pemantauan jaringan secara digital.

DMA, misalnya, membantu pengelola memantau aliran air pada kawasan yang dibagi menjadi zona tertentu. Ketika volume air yang masuk tidak sebanding dengan pemakaian yang tercatat, pencarian titik masalah bisa diarahkan ke area yang lebih sempit.

Cara kerja seperti ini membuat penanganan jaringan lebih terukur. Tim tidak harus mencari persoalan dari bentang jaringan yang terlalu luas.

Bagi warga, proses tersebut mungkin nyaris tidak terlihat. Dampaknya justru terasa ketika suplai menjadi lebih stabil, kebocoran lebih cepat ditemukan, dan gangguan tidak berlangsung terlalu lama.

Pipa baru tetap dibutuhkan. Jaringan lama juga harus dijaga.

Dua pekerjaan itu berjalan pada jalur yang sama jika Jakarta ingin mencapai layanan penuh tanpa mengorbankan kualitas distribusi.

Digitalisasi Membantu Membaca Masalah Lebih Cepat

Jaringan air modern tidak lagi hanya bergantung pada inspeksi fisik.

Data mulai memegang peran besar.

PAM JAYA mengembangkan kanal layanan digital agar pelanggan lebih mudah memperoleh informasi dan mengakses kebutuhan terkait layanan air. Salah satunya melalui Super App yang menggabungkan sejumlah layanan pelanggan dalam satu aplikasi.

Di sisi operasional, digitalisasi memberi ruang untuk pemantauan yang lebih terintegrasi. Informasi dari berbagai titik jaringan dapat membantu pengelola membaca kondisi layanan secara lebih cepat dibanding hanya mengandalkan laporan manual.

PAM JAYA turut mengembangkan layanan berbasis kecerdasan buatan melalui AI Call Center sebagai bagian dari strategi pelayanan air perpipaan.

Teknologi tentu tidak bisa menambal pipa bocor sendiri.

Perannya ada pada kecepatan membaca masalah, mengelola informasi, dan mengarahkan penanganan. Saat data pelanggan dan kondisi layanan lebih terhubung, respons di lapangan juga berpeluang menjadi lebih tepat sasaran.

Bagi pelanggan, kebutuhannya sederhana: tahu apa yang sedang terjadi ketika aliran bermasalah dan mendapat penanganan yang jelas.

Perluasan Air Perpipaan Berkaitan dengan Air Tanah

Persoalan air perpipaan Jakarta tidak berhenti pada pelayanan rumah tangga.

Ada isu lingkungan yang ikut mengiringinya.

Perluasan jaringan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan air tanah. Pemerintah DKI Jakarta mendorong peralihan tersebut karena eksploitasi air tanah berkaitan dengan persoalan penurunan muka tanah dan keberlanjutan lingkungan perkotaan.

Logikanya cukup jelas. Warga akan lebih mudah mengurangi penggunaan air tanah ketika tersedia alternatif perpipaan yang bisa diandalkan.

Tantangan sebenarnya muncul pada kata “diandalkan”.

Jaringan boleh menjangkau sebuah kawasan, tetapi masyarakat tetap membutuhkan aliran yang stabil, kualitas pelayanan yang baik, serta kepastian suplai. Tanpa itu, keberadaan pipa belum tentu langsung mengubah kebiasaan penggunaan air.

Perluasan jaringan dan peningkatan kualitas layanan akhirnya bertemu pada tujuan yang sama: membuat perpipaan menjadi pilihan yang layak digunakan dalam jangka panjang.

Tantangan Menuju Target 2029

Perjalanan menuju cakupan layanan 100 persen masih menyisakan pekerjaan besar.

Pada pertengahan 2026, cakupan layanan PAM JAYA telah berada di sekitar 82 persen. Angka tersebut menunjukkan perluasan terus bergerak, tetapi wilayah yang belum terjangkau bukan satu-satunya persoalan yang harus diselesaikan.

Ada pekerjaan di balik jaringan yang tidak kalah menentukan.

Air yang diproduksi perlu dijaga agar tidak banyak hilang sebelum sampai ke pelanggan. Kebocoran harus ditemukan lebih cepat. Distribusi perlu semakin efisien. Pada saat yang sama, pelanggan membutuhkan kanal layanan yang responsif ketika masalah muncul.

Bagi Arief Nasrudin dan jajaran PAM JAYA, target 2029 pada akhirnya bukan sebatas mengejar angka cakupan. Tantangannya juga terletak pada kemampuan menjaga kualitas layanan saat jumlah sambungan dan wilayah pelayanan terus bertambah.

Mencapai 100 persen berarti membangun jaringan yang mampu bekerja, bukan hanya jaringan yang selesai dipasang. Ukurannya ada pada pengalaman warga sehari-hari: membuka keran dan mendapatkan air secara konsisten.

Jika perluasan jaringan, pengendalian NRW, rehabilitasi pipa, pemantauan digital, dan peningkatan layanan berjalan searah, Jakarta akan semakin dekat pada sistem air perpipaan yang tidak sekadar luas, tetapi juga dapat dipercaya.

Referensi

ANTARA. “Transformasi PAM Jaya Dinilai Jadi Fondasi Akses Air Minum Perpipaan.” 7 Agustus 2026.

BeritaJakarta. “Pramono Optimistis Target Cakupan Air Bersih 100 Persen Tuntas 2029.” 26 Juni 2026.

PAM JAYA. “Layanan Air Minum Jakarta.” Diakses 18 Agustus 2026.

detikNews. “Strategi PAM JAYA Penuhi Air Minum Perpipaan 100% pada 2029.” 25 Mei 2026.

Putri Sarah Hayafizah menulis seputar keseharian, kebiasaan modern, serta berbagai hal yang membantu pembaca bertumbuh dan melangkah lebih siap.

Related Post

Tinggalkan komentar